UNAIR dan UPM Dorong Edukasi HIV di Pesantren Malaysia Lewat Dialog Terbuka dengan Santri

0

 



Kuala Lumpur, Malaysia, Pakuan Pos – Edukasi mengenai HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi isu sensitif di banyak lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Kekhawatiran membuka pembicaraan yang dianggap “terlarang” membuat materi kesehatan reproduksi dan penyakit infeksi sering terbatas, bahkan dihindari.

Padahal, minimnya informasi justru membuat remaja rentan terpapar misinformasi, stigma, dan risiko penularan penyakit di tengah mobilitas global yang semakin tinggi.

Kondisi ini coba dijawab Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (RC-GERID) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Universiti Putra Malaysia (UPM) melalui program pengabdian masyarakat internasional di Maahad Tahfiz Ihya’ Al-Ahmadi, Kuala Lumpur, Selasa (12/5/2026).

Tim UNAIR dan UPM membuka ruang dialog langsung dengan para santri mengenai HIV/AIDS, IMS, dan penyakit infeksi lain yang rentan muncul di lingkungan sekolah berasrama. Program ini melibatkan peneliti RC-GERID, mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Vokasi UNAIR, serta mahasiswa KKN Internasional. Sebelumnya, RC-GERID juga menjalankan kegiatan serupa di Johor, Malaysia.

Perwakilan pesantren, Ustadzah Siti, menyambut baik pendekatan edukatif tersebut. Ia menilai para santri membutuhkan pengetahuan kesehatan yang memadai untuk menjaga diri dan lingkungan.

“Kami berbesar hati kerana pasukan UNAIR dan UPM sudi hadir ke sekolah kami. Kami berharap anak-anak kami dapat belajar daripada penyampaian tentang penyakit berjangkit,” ujar Ustadzah Siti.

Peneliti RC-GERID UNAIR, Dwi Ratna Indriati, Ph.D., menjelaskan bahwa banyak remaja belum memahami bentuk maupun mekanisme penularan IMS. Dalam pemaparannya, ia membahas penyakit seperti klamidia, sifilis, gonore, hepatitis B, HIV, HPV, herpes genital, hingga trikomoniasis.

Menurut Dwi, penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual tidak aman, transfusi darah, penggunaan jarum suntik bergantian, hingga penularan dari ibu ke anak saat kehamilan.

“Tindakan-tindakan berisiko tersebut perlu dihindari bersama sebagai bagian dari langkah pencegahan,” katanya.

Dr. Siti Qamariyah Khairunisa menyoroti kuatnya stigma sosial terhadap orang dengan HIV/AIDS. Ia menilai stigma menjadi salah satu faktor yang membuat edukasi HIV sulit diterima secara terbuka.

“HIV sampai saat ini belum memiliki vaksin. Obat ARV hanya membantu menekan perkembangan virus, bukan menyembuhkan. Karena itu, yang harus dihindari adalah virusnya, bukan orang yang hidup dengan HIV,” ujar Ria.

Ketua RC-GERID UNAIR, Laura Navika Yamani, Ph.D., menambahkan bahwa lingkungan sekolah dan asrama memiliki risiko tinggi penyebaran penyakit infeksi jika kebersihan lingkungan dan pribadi tidak dijaga disiplin.

Ia menyebut penyakit seperti skabies, campak, malaria, hingga tuberkulosis dapat menyebar cepat di lingkungan padat penghuni.

“Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu perlu terus diperkuat karena kebersihan merupakan salah satu langkah utama mencegah penyakit,” ujar Laura.

Selain penyuluhan kesehatan, kegiatan diisi pengenalan kampus UNAIR oleh mahasiswa KKN Internasional serta pemeriksaan golongan darah oleh mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik.

Para santri tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan mengenai kesehatan remaja serta penyakit infeksi yang jarang dibicarakan secara terbuka di lingkungan mereka.

Melalui kegiatan ini, RC-GERID UNAIR dan UPM ingin menunjukkan bahwa edukasi HIV dan penyakit infeksi tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap nilai-nilai moral maupun agama. Keterbukaan informasi dan dialog sehat dinilai menjadi langkah penting melindungi generasi muda dari ancaman penyakit menular di masa depan. (Pr

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top