Lewat ABC Blueprint 2045, Alumni UNAIR Rajut Ekosistem Bisnis yang Tangguh

0

 



Surabaya, Pakuan Pos – Pelaku usaha tidak bisa lagi hanya mengandalkan modal dan pasar untuk bertahan di tengah persaingan. Kolaborasi dengan perbankan, pemerintah, perguruan tinggi, investor, hingga sesama pengusaha menjadi kunci untuk mendorong bisnis tumbuh dan naik kelas.

Gagasan tersebut menjadi benang merah _Sarasehan Bisnis Nasional_ yang digelar Airlangga Business Community (ABC), organisasi di bawah Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR), di Surabaya Suites Hotel, Jumat (24/7/2026).

Mengusung tema _”Merajut Kolaborasi, Membuka Akses Sinergi Multipihak untuk Ekosistem Bisnis yang Tangguh”_, forum ini mempertemukan pengusaha dengan kalangan perbankan, pemerintah, akademisi, investor, BUMN-BUMD, hingga pelaku startup.

Ketua Airlangga Business Community Dicky Fanani mengatakan, tantangan dunia usaha saat ini tidak lagi sebatas meningkatkan produksi dan penjualan. Pengusaha juga harus memiliki akses terhadap pembiayaan, investasi, teknologi, pengetahuan, serta jejaring yang mempertemukan mereka dengan peluang baru.

”Karena itu, ABC ingin menjadi penghubung yang mempertemukan pelaku usaha, dunia industri, lembaga keuangan, pemerintah, dan akademisi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” kata Dicky.

Menurutnya, kekuatan jejaring alumni Universitas Airlangga memiliki potensi besar jika dikembangkan menjadi kolaborasi bisnis yang konkret. ABC diarahkan melampaui fungsi sebagai tempat berkumpulnya pengusaha alumni, menjadi ekosistem yang membuka akses pasar, pembiayaan, investasi, riset, hingga kemitraan usaha.

Sarasehan ini menjadi langkah awal implementasi _ABC Blueprint 2045_, rancangan jangka panjang yang menempatkan kolaborasi sebagai fondasi pengembangan bisnis alumni.

ABC berupaya mempertemukan pengusaha yang membutuhkan pembiayaan dengan lembaga keuangan, pelaku bisnis yang membutuhkan inovasi dengan perguruan tinggi, serta dunia usaha yang membutuhkan dukungan regulasi dengan pemerintah.

Ketua Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto yang diwakili Wakil Ketua Bidang Migas Kadin Jatim Tri Prakoso menyoroti pentingnya organisasi usaha sebagai ”rumah” bagi pengusaha.

Tri membandingkan kelembagaan dunia usaha di Indonesia dengan Jerman. Menurutnya, struktur kelembagaan pengusaha di Indonesia masih menghadapi tantangan karena belum seluruh pelaku usaha terhubung kuat melalui organisasi.

”Fungsi organisasi pengusaha tidak cukup hanya menjadi tempat membangun jaringan. Advokasi menjadi penting ketika pelaku usaha menghadapi hambatan regulasi, perizinan, standardisasi produk, hingga persoalan lain,” ujar Tri.

Ia mencontohkan pendekatan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mendampingi UMKM. Pelaku UMKM tidak hanya didorong menjual produk, tetapi juga didampingi mencatat pembukuan, mengurus PIRT, sertifikasi halal, hingga meningkatkan standardisasi.

Pendekatan tersebut menunjukkan persoalan UMKM tidak berhenti pada modal. Kemampuan mengelola usaha, legalitas, kualitas produk, memahami konsumen, dan memperluas pasar juga menentukan apakah usaha mampu naik kelas.

Kampus memiliki posisi strategis dalam ekosistem ini. Kolaborasi dunia usaha dan perguruan tinggi dapat membantu menjawab persoalan yang membutuhkan riset dan inovasi.

Salah satu contoh adalah pengembangan edamame. Sebagai tanaman subtropis, pengembangan edamame di daerah tropis menghadapi tantangan kesesuaian bibit. Untuk itu dilakukan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di Thailand guna memperoleh bibit yang lebih sesuai.

Contoh ini memperlihatkan kebutuhan pasar dapat menjadi pintu masuk kolaborasi bisnis dan ilmu pengetahuan. Bagi pengusaha, membaca perilaku pasar sama pentingnya dengan kemampuan memproduksi barang.  

Area Micro and Pawning Manager Bank Syariah Indonesia Ahmad Nuruddin memaparkan peluang pembiayaan syariah bagi pelaku usaha. Sementara Sekretaris DPMPTSP Jawa Timur Shovitusholihah mengulas peran iklim investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepastian regulasi, kemudahan pelayanan, dan komunikasi antara pemerintah dengan pelaku usaha disebut sebagai kunci iklim investasi yang sehat.

Bagi ABC, mempertemukan akses pembiayaan dengan kesiapan bisnis menjadi penting. Tambahan modal tidak otomatis membuat usaha berkembang jika tidak dibarengi pasar, tata kelola, inovasi, dan jejaring.

Sarasehan diikuti lebih dari 50 peserta dari CEO, direktur perusahaan, pemilik usaha alumni UNAIR, BUMN-BUMD, perbankan, akademisi, investor, hingga startup. Kegiatan juga diisi pelantikan pengurus dan rapat kerja penyusunan program strategis.

Dicky menegaskan ABC membawa empat nilai utama: integritas, kolaborasi, kebermanfaatan, dan keberlanjutan. Keempatnya diarahkan agar jejaring alumni menghasilkan kolaborasi nyata bagi pelaku usaha dan perekonomian.

Melalui _ABC Blueprint 2045_, ABC ingin membangun jejaring yang memungkinkan pengusaha bertemu perbankan saat butuh pembiayaan, investor saat butuh ekspansi, kampus saat butuh riset, dan pemerintah saat berhadapan dengan regulasi.

”Dengan model ini, jejaring alumni tidak berhenti pada pertemuan dan tukar kartu nama. ABC ingin mengubah koneksi menjadi kolaborasi, kolaborasi menjadi peluang usaha, dan peluang itu menjadi bisnis yang tumbuh berkelanjutan,” tutup Dicky. (Abc/Unair


Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top