Cianjur, Pakuan Pos - Ada yang menarik dari Gunung Padang. Bagi banyak pengunjung, situs megalitikum di Kabupaten Cianjur ini bukan hanya menyimpan jejak peradaban kuno, tetapi juga menghadirkan ruang kontemplasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Salah satu hal yang kerap menjadi bahan perbincangan adalah kemunculan angka ganjil yang seolah hadir di berbagai sudut kawasan tersebut. Situs ini memiliki lima teras yang saling dihubungkan oleh lima anak tangga kecil. Ujung-ujung batu andesit kolom banyak membentuk pola menyerupai segi lima. Gunung Padang juga diapit oleh lima sungai, yakni Cipanggulaan, Cikuta, Ciwangun, Pasir Malang, dan Cimanggu, serta dikelilingi lima bukit, yaitu Karuhun, Pasir Empet, Pasir Malati, Pasir Malang, dan Pasir Batu. Dari puncaknya, pandangan terbuka ke arah lima gunung, yakni Pasir Pogor, Cikencana, Pangrango, Gede, dan Gunung Batu.
Bagi sebagian orang, keselarasan angka-angka tersebut menjadi simbol harmoni alam. Meski demikian, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa pola itu memiliki makna mistis tertentu.
Menariknya, pengalaman serupa kembali dirasakan rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dan PWI Pusat saat berkunjung ke Gunung Padang pada Senin (29/6/2026) malam hingga Selasa (30/6/2026) dini hari.
Rombongan diprakarsai Bendahara PWI Jaya, Dar Edi Yoga, yang bukan sosok asing bagi Gunung Padang. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di situs tersebut pada 15 Maret 2012, ketika datang bersama dua rekannya, Dar Edi telah puluhan kali kembali berkunjung. Baginya, setiap perjalanan selalu menghadirkan pengalaman dan pelajaran yang berbeda.
Semula, rombongan direncanakan berjumlah 14 orang. Namun hingga keberangkatan, yang ikut hanya sembilan orang. Jumlah ganjil itu, menurut Dar Edi Yoga, bukan kali pertama terjadi.
"Entah kebetulan atau tidak, hampir setiap saya mengajak teman-teman ke Gunung Padang, jumlah peserta yang akhirnya berangkat sering kali berubah menjadi ganjil," ujarnya sambil tersenyum.
Sesampainya di kawasan situs, bulan purnama bersinar terang, menerangi perjalanan rombongan dari Teras 1 hingga Teras 5. Cahaya rembulan yang memantul di antara batu-batu purba menghadirkan suasana damai yang dinikmati seluruh peserta.
Anrico Pasaribu, Raldy Doy, Toni Bramantoro, Rudolf Simbolon, dan peserta lainnya tampak larut menikmati suasana malam. Sementara Bimo, yang datang dari Jakarta, telah mempersiapkan perjalanan itu dengan membawa kursi lipat dan secangkir kopi hangat dalam tumbler agar dapat menikmati keheningan lebih lama.
Di setiap teras yang dilalui, praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo menyalakan dupa sebagai simbol doa dan penghormatan kepada Sang Pencipta serta kepedulian terhadap alam.
"Bagi saya, dupa bukan untuk menyembah tempat ini. Ia hanya menjadi pengingat agar manusia hadir dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan menghormati alam sebagai ciptaan Tuhan," kata Cahaya Adi Wibowo.
Menjelang pukul 01.00 WIB, seluruh peserta mengikuti meditasi dalam suasana hening yang didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana. Tak ada suara selain desir angin dan nyanyian alam yang menemani setiap orang larut dalam refleksinya masing-masing.
Bagi Wahyu, yang baru pertama kali mengunjungi Gunung Padang, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Bahkan sesaat setelah rombongan tiba kembali di area parkir, ia langsung mengutarakan keinginannya untuk datang lagi.
"Saya ingin kembali lagi ke Gunung Padang. Tempat ini membuat hati tenang. Nanti saya ingin mengajak keluarga atau teman-teman supaya mereka juga bisa merasakan suasana seperti malam ini," ujarnya.
Bagi Dar Edi Yoga, Gunung Padang bukan sekadar situs purbakala yang menyimpan jejak sejarah, melainkan ruang untuk merenung, mempererat persaudaraan, dan menyadari bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta ciptaan Tuhan. Di bawah cahaya purnama, setiap langkah di antara bebatuan purba seolah mengajak siapa pun untuk pulang kepada keheningan, rasa syukur, dan kedamaian batin. (Wp)


