Pakuan Pos – Politik belah bambu dapat diartikan sebagai strategi membelah kelompok yang semula solid menjadi bagian-bagian yang rapuh. Bambu yang utuh akan kuat, tetapi setelah dibelah kekuatannya melemah dan mudah dikuasai. Konsep ini selaras dengan prinsip Divide et Impera atau pecah dan kuasai.
Politik belah bambu dipraktikkan penjajah Belanda untuk menaklukkan Nusantara. Alih-alih hanya mengandalkan kekuatan militer, Belanda menggunakan adu domba antar kerajaan dan tokoh lokal.
Salah satu contohnya terlihat pada Perang Diponegoro yang melemah akibat hilangnya dukungan internal. Belanda juga memecah wilayah kerajaan melalui perjanjian-perjanjian seperti Giyanti dan Tuntang. Strategi ini membuat kerajaan-kerajaan saling bersaing dan bertikai, sehingga VOC lebih mudah menguasai.
Di era reformasi, politik belah bambu muncul dalam bentuk baru dan lebih halus:
1. Politik Identitas: Isu SARA, agama, ras, dan golongan dimainkan untuk menciptakan polarisasi. Kelompok yang awalnya memiliki tujuan sama menjadi saling curiga dan berhadapan.
2. Politik Transaksional: Tokoh kunci atau kelompok tertentu diberi iming-iming jabatan, proyek, atau akses sumber daya. Soliditas kelompok luntur karena kepentingan individu lebih diutamakan.
3. Politik Kampus dan Ormas: Gerakan massa yang semula besar tiba-tiba melemah karena sebagian elemen ditarik keluar melalui pemberian dana atau fasilitas. Akibatnya konsolidasi gerakan gagal.
Tujuan utama politik belah bambu adalah melemahkan kekuatan lawan dari dalam. Ketika sebuah kelompok sibuk menyelesaikan konflik internal, fungsi kontrol terhadap kekuasaan menjadi lemah.
Dampaknya bagi demokrasi cukup besar. Persatuan masyarakat bisa rusak, kepercayaan publik ke lembaga melemah, dan pengawasan kebijakan tidak berjalan optimal karena energi habis untuk konflik internal. Proses pengambilan keputusan publik pun rawan tidak mencerminkan kepentingan bersama.
Lawan dari politik belah bambu adalah politik konsolidasi dan gotong royong. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain memperkuat komunikasi internal agar konflik diselesaikan secara musyawarah, meningkatkan literasi politik masyarakat agar mampu mengidentifikasi upaya adu domba, serta menjaga fokus pada tujuan bersama sehingga kepentingan kelompok tidak mengalahkan kepentingan besar.
Politik belah bambu menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah kelompok sering kali berasal dari retakan internal, bukan dari tekanan eksternal. Selama ego, kecurigaan, dan transaksionalisme masih ada, maka risiko perpecahan akan selalu mengintai.
Semangat bersatu menjadi kunci untuk menjaga kekuatan bersama. Ketika kelompok tetap solid dan fokus pada tujuan awal, strategi belah bambu akan kehilangan ruang untuk bekerja. (Aj)


