Jakarta, Pakuan Pos - Wakil Ketua Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya LBH PP GEKIRA, Irjen Pol Purn Heribertus Dahana Resmiwara atau Herry Dahana, mengajak seluruh elemen bangsa menjaga optimisme dan mendukung pembangunan nasional demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Pernyataan itu disampaikan Herry Dahana dalam keterangan tertulisnya, Rabu 24/6/2026. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak ditentukan seberapa keras kritik yang dilontarkan, melainkan dari kemampuan mengawal pemerintahan, memberi masukan objektif, serta mendukung kebijakan yang berpihak ke rakyat.
“Tidak ada bangsa yang menjadi maju hanya karena pandai mengkritik. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengawal pemerintah, memberikan masukan yang objektif, serta mendukung setiap kebijakan yang benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat,” ujar Herry.
Mantan Deputi Politik dan Strategi Wantannas RI itu menilai Indonesia sedang menapaki perjalanan besar menuju Indonesia Emas 2045. Perjalanan itu tidak mudah karena dihadapkan pada tantangan global yang kompleks: ketidakpastian ekonomi dunia, persaingan geopolitik, perkembangan teknologi cepat, perubahan iklim, hingga ancaman ketahanan pangan.
Karena itu, Herry menekankan Indonesia harus menyiapkan SDM unggul, sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Ia menilai visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia kuat, mandiri, dan sejahtera adalah langkah strategis yang wajib didukung semua komponen bangsa.
Visi tersebut, kata dia, diwujudkan lewat program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Mulai penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas pendidikan, hilirisasi industri, pembangunan ekonomi, hingga investasi pada kualitas generasi muda.
Salah satu program yang jadi sorotan publik adalah Program Makan Bergizi Gratis MBG. Herry memahami ada dukungan sekaligus kritik dari masyarakat.
Namun ia mengingatkan, dalam demokrasi setiap kebijakan publik harus dinilai objektif berdasarkan tujuan, mekanisme pelaksanaan, hasil yang dicapai, serta bukti yang tersedia.
“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun alangkah baiknya jika setiap kebijakan dinilai secara objektif berdasarkan tujuan, pelaksanaan, hasil yang dicapai, serta bukti-bukti yang tersedia,” katanya.
Herry mencontohkan program makan bergizi bagi anak sekolah bukan hal baru. Negara maju dan berkembang seperti Jepang, Finlandia, Brasil, India, dan Korea Selatan sudah lama menerapkannya sebagai investasi SDM jangka panjang.
Program itu tak hanya mengatasi masalah gizi, tapi juga mendukung kesehatan, kesiapan belajar, kualitas pendidikan, serta pemberdayaan pertanian lokal. Kajian internasional menunjukkan program makan sekolah yang dikelola baik dapat meningkatkan kehadiran siswa dan perkembangan kognitif.
Ia juga mengutip laporan World Food Programme WFP: sedikitnya 466 juta anak di 107 negara saat ini menerima manfaat program makan sekolah sebagai investasi pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembangunan manusia.
Meski begitu, Herry menegaskan keberhasilan MBG di Indonesia tak hanya bergantung niat baik pemerintah. Diperlukan tata kelola profesional, transparansi anggaran, ketepatan sasaran, pengawasan kuat, serta evaluasi berkelanjutan.
“Di sinilah peran masyarakat menjadi sangat penting. Bukan sekadar mendukung atau menolak, tetapi ikut mengawal agar program benar-benar memberikan manfaat bagi generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Herry menegaskan program pembangunan sebesar apa pun tidak akan berhasil tanpa persatuan nasional. Ia mengajak seluruh elemen bangsa mengedepankan gotong royong, menjaga optimisme, serta mengawal kebijakan pemerintah secara kritis namun santun dan konstruktif.
“Indonesia membutuhkan energi untuk membangun, bukan energi untuk saling menjatuhkan. Indonesia Emas 2045 bukan hanya cita-cita pemerintah, melainkan cita-cita seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Ia menutup dengan pesan: mendukung pemerintah bukan berarti menutup mata pada kekurangan. Dukungan harus diwujudkan lewat pengawasan, kritik objektif, dan masukan untuk perbaikan.
“Mendukung pemerintah bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Kita mendukung agar setiap program yang baik berhasil, sekaligus mengawal dan memberikan masukan agar yang masih kurang dapat diperbaiki. Demokrasi yang sehat bukan dibangun oleh kebencian, melainkan oleh kritik yang objektif, dialog yang bermartabat, dan semangat gotong royong demi kepentingan bangsa,” pungkas Herry.


