Dari Apatis ke Pemimpin Perubahan: Mahasiswa UKSW Menguji Arah Gerakan Masa Depan

0

 


Salatiga, Pakuan Pos - Apakah mahasiswa hari ini masih motor perubahan sosial atau justru menjauh dari persoalan publik? Pertanyaan itu jadi inti diskusi "NGOBAR 2026: Apatisme di Kalangan Anak Muda" yang digelar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Rabu, (17/6/2026). 

Diskusi dimoderatori dosen UKSW Rizky Amalia Yanuarta. Narasumbernya Direktur Eksekutif Institute for Strategic and Political Studies INTRAPOLS, Bustomi Menggugat. Mahasiswa dari berbagai latar belakang hadir, membahas politik, gerakan mahasiswa, Papua, hingga tantangan literasi digital.

Di tengah stigma generasi muda apatis, forum justru menunjukkan kegelisahan yang masih hidup. Mahasiswa mempertanyakan arah gerakan, efektivitas ormawa, dan peran kampus merespons persoalan kebangsaan.

Bustomi menyebut apatisme politik ancaman serius bagi demokrasi. "Ketika generasi muda kehilangan kepedulian, ruang keputusan didominasi kelompok tertentu tanpa kontrol masyarakat," ujarnya.

Ia mengajak mahasiswa melihat politik secara substantif. Politik bukan perebutan kuasa, tapi pengabdian untuk kebaikan bersama. Mengutip Aristoteles, politik adalah usaha mencapai kebaikan tertinggi warga negara. Karena itu, keterlibatan anak muda bukan pilihan, tapi tanggung jawab.

"Ketika dijalankan dengan integritas moral, keberpihakan kepada rakyat, dan tata kelola transparan, politik jadi alat paling efektif untuk kesejahteraan masyarakat," tegasnya.

Bustomi juga menekankan independensi. Ia mengibaratkan diri sebagai ronin, samurai tanpa tuan. "Saya tidak takut siapa pun. Saya hanya takut kepada Tuhan karena saya hamba. Pejabat harus bergerak karena independensi, bukan intervensi," katanya.

Pesan utama Bustomi: mahasiswa harus naik kelas. Selama ini dikenal sebagai agent of change, penyaru kritik dan aspirasi. Tantangan zaman menuntut jadi leader of change, yang tawarkan solusi, bangun konsensus, gerakkan masyarakat.

"Perubahan besar nggak cukup dari kritik keras. Butuh kepemimpinan yang menerjemahkan gagasan jadi tindakan nyata," ujarnya. Mahasiswa tak boleh cuma jadi komentator sosial. Mereka harus siap pimpin perubahan di kampus, masyarakat, hingga negara.

Ia mengingatkan sejarah: Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, kemerdekaan, Reformasi 1998. Semua dipelopori pemuda. Transformasi peran ini jadi tantangan utama gerakan pemuda Indonesia.

Mahasiswa juga angkat isu strategis: dualisme ormawa, pembangunan Papua, proyek strategis Biak Numfor-Merauke, hingga harga BBM. Akar persoalannya sama: literasi.

Apatisme muncul karena rendahnya tradisi baca dan lemahnya pemahaman utuh. Akibatnya, anak muda mudah terjebak sensasi tanpa paham substansi. Literasi jadi fondasi lahirnya pemimpin masa depan. Fungsinya hindarkan dari jebakan kontroversi, bangun nalar kritis, dan keputusan berbasis fakta.

Bustomi menyebut pemuda + literasi seperti dua sisi mata uang. Generasi muda perlu jadi "penganjur": perpaduan aktivis dan intelektual yang kritik sekaligus tawarkan gagasan konstruktif.

" Masa depan gerakan mahasiswa nggak ditentukan seberapa keras teriak di jalan atau medsos. Tapi dari kemampuan bangun pengetahuan, pimpin perubahan, dan hadirkan solusi," pungkasnya.

Diskusi 2 jam lebih itu menguji dua hal: kepedulian mahasiswa pada politik, dan kesiapan mereka jadi pemimpin perubahan. Pertanyaan terbesar hari ini bukan apatis atau peduli. Tapi: siapkah bertransformasi dari agent of change jadi leader of change? (*) 



Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top