Pakuan Pos – Peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya” sudah lama hidup di masyarakat Indonesia. Maknanya sederhana: orang yang sedikit ilmunya atau tidak punya isi justru paling keras bersuara. Di era informasi terbuka seperti sekarang, peribahasa ini terasa makin relevan.
Ucapan yang tidak sesuai kenyataan sering muncul dalam berbagai ruang. Mulai dari obrolan sehari-hari, dunia kerja, sampai ruang publik dan media sosial. Orang bisa bicara lantang soal visi, janji, dan rencana besar. Tapi ketika ditanya bukti atau langkah konkret, jawabannya kosong.
Fenomena ini biasanya muncul karena beberapa hal. Pertama, kebutuhan untuk terlihat pintar atau berpengaruh tanpa mau menjalani proses belajar yang sungguh-sungguh. Kedua, strategi mencari perhatian. Suara keras dan retorika berapi-api lebih mudah menarik audiens daripada penjelasan teknis yang membosankan. Ketiga, kebiasaan menutupi kekurangan dengan pencitraan.
Dampaknya tidak kecil. Di lingkungan kerja, tim bisa kehilangan arah karena arahan hanya sebatas slogan. Di masyarakat, kepercayaan publik terkikis ketika janji tidak pernah diwujudkan. Di dunia digital, hoaks dan klaim berlebihan menyebar cepat karena dibungkus bahasa meyakinkan tapi tanpa data.
Lalu bagaimana menyikapinya?
1. Lihat rekam jejak, bukan hanya kata-kata
Orang yang benar-benar paham biasanya bicara dengan detail, terbuka terhadap kritik, dan mau menunjukkan proses. Bandingkan dengan mereka yang hanya mengulang slogan tanpa contoh nyata.
2. Tuntut konsistensi
Ucapan yang kredibel selalu bisa diuji dengan tindakan. Jika seseorang sering berubah alasan atau menghindari tanggung jawab, itu tanda ucapan dan kenyataan tidak sinkron.
3. Biasakan bertanya “bagaimana” dan “buktinya apa”
Kebiasaan ini membantu memisahkan wacana kosong dari rencana yang bisa dijalankan. Pertanyaan sederhana sering kali membuat pembicara kosong kehabisan kata.
Peribahasa ini bukan ajakan untuk diam. Justru sebaliknya: bicara penting, tapi harus diisi dengan kerja, data, dan tanggung jawab. Suara yang pelan tapi konsisten biasanya lebih dipercaya daripada teriakan yang tidak ada isinya.
Di tengah banjir informasi, kemampuan membedakan “tong berisi” dan “tong kosong” menjadi keterampilan dasar. Karena pada akhirnya, yang dikenang bukan seberapa keras seseorang bersuara, tapi apa yang benar-benar dia wujudkan.


