Kasus Ebola Naik Tajam, Pakar UNAIR Ingatkan Indonesia Jangan Lengah

0


Surabaya, Pakuan Pos – Kasus Ebola kembali meningkat di Afrika Tengah. Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga UNAIR, Laura Navika Yamani, mengingatkan Indonesia tidak boleh menganggap ancaman ini jauh dan tidak terkait kondisi dalam negeri. Meski belum ada kasus di Indonesia, mobilitas global membuat penyebaran penyakit lintas negara sulit diprediksi.

Peringatan itu disampaikan di tengah lonjakan kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo DRC dan Uganda. Data per 25 Mei 2026 mencatat DRC melaporkan 906 kasus suspek, 105 kasus terkonfirmasi, 223 kematian suspek, dan 10 kematian terkonfirmasi. Sementara Uganda melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi dengan satu kematian.

Laura yang juga Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis LPT UNAIR menegaskan pengalaman wabah sebelumnya membuktikan penyakit infeksi dapat menyebar cepat melalui perjalanan internasional.

"Indonesia memang belum melaporkan kasus Ebola. Namun, bukan berarti kita bisa santai. Pengalaman wabah-wabah sebelumnya menunjukkan bahwa penyakit infeksi dapat menyebar dengan cepat melalui perjalanan internasional dan mobilitas manusia," kata Laura.

Menurutnya, tingginya jumlah kasus suspek menunjukkan wabah masih dalam fase pengawasan dan investigasi intensif. Identifikasi kasus terlambat, keterbatasan fasilitas diagnostik, serta sulitnya pelacakan kontak menjadi tantangan utama pengendalian.

"Ketika jumlah kasus yang dicurigai sudah banyak sebelum wabah berhasil dipetakan dengan baik, maka proses pengendalian akan menjadi jauh lebih sulit," ujarnya.


Bukan Wabah Baru, Tapi Tetap Berbahaya

Ebola pertama kali ditemukan 1976 di wilayah yang kini menjadi DRC dan Sudan Selatan. Setelah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus pada manusia, frekuensinya meningkat sejak pertengahan 1990-an.

Dunia pernah waspada pada wabah Ebola Afrika Barat 2014–2016. Saat itu lebih dari 28.000 kasus dilaporkan dan ribuan orang meninggal. Sejumlah negara di luar Afrika seperti Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Italia, Nigeria, Senegal, dan Mali sempat mencatat kasus impor akibat perjalanan internasional.

"Wabah Ebola tahun 2014 memberikan pelajaran bahwa dunia yang saling terkoneksi membuat ancaman kesehatan tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis," kata Laura.

Wabah saat ini didominasi Bundibugyo ebolavirus, strain yang relatif jarang dibanding jenis Ebola lain. Meski jarang, strain ini tetap berbahaya karena tingkat fatalitas tinggi. Tantangan lainnya adalah ketersediaan alat diagnostik dan vaksin yang belum seoptimal untuk strain yang lebih sering ditemukan.

Gejala awal Ebola juga mirip penyakit umum seperti malaria, tifoid, atau demam biasa. Pasien biasanya hanya mengalami demam, lemas, dan nyeri otot, sehingga kasus bisa terlambat dikenali.

"Pada tahap awal, pasien biasanya hanya mengalami demam, lemas, dan nyeri otot. Karena gejalanya tidak spesifik, kasus bisa terlambat dikenali dan penularan dapat terus berlangsung," jelasnya.


Indonesia Perlu Bersiap

Meski WHO masih menilai risiko Ebola global kategori rendah, Laura menilai Indonesia perlu memperkuat sistem kewaspadaan dini. Bandara internasional, pelabuhan, dan pintu masuk negara harus jadi bagian penting pengawasan kesehatan. Kapasitas laboratorium, surveilans epidemiologi, dan kesiapan rumah sakit juga perlu terus diperkuat.

Laura yang juga Ketua Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases RC-GERID UNAIR menambahkan, pelajaran dari pandemi COVID-19 menunjukkan krisis kesehatan bisa terjadi cepat ketika deteksi dini dan respons tidak optimal.

"Ebola bukan hanya berita tentang fenomena wabah di belahan dunia lain dalam hal ini Afrika. Ini adalah pengingat bagi kita semua khususnya kita di Indonesia ini, bahwa ancaman penyakit menular bisa muncul kapan saja dan dimana. Karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tidak boleh kendur apalagi di era migrasi manusia dari satu titik ke titik yang lain yang begitu masif seperti saat ini," pungkas Laura.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top