Surabaya, Pakuan Pos – Media sosial kini tidak lagi sekadar ruang berbagi informasi dan hiburan. Di balik layar gawai, generasi muda dinilai sedang menghadapi “perang psikologis” baru berupa tekanan sosial, kecemasan digital, hingga tuntutan untuk terus tampil sempurna di ruang virtual.
Fenomena itu menjadi sorotan dalam agenda _Research Week_ bertajuk “Digital Literacy in the Age of Information: Building Critical and Research-Driven Minds” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (22/5/2026) siang.
Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa magister dan doktoral FISIP UNAIR tersebut menghadirkan Jun Eric Fu dari Universitas Melbourne, Australia, sebagai pembicara utama. Diskusi dimoderatori dosen dan mahasiswa program doktoral FISIP UNAIR, Syifa Syarifah Alamiyah, serta dibuka Wakil Dekan Riset, Inovasi, Community Development, dan Kerja Sama FISIP UNAIR, Dina Septiani.
Dalam paparannya, Jun Fu menyoroti meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak media sosial terhadap kesehatan mental generasi muda. Namun, ia menegaskan persoalan itu tidak bisa dijelaskan secara sederhana hanya dengan menyalahkan teknologi digital.
“Tekanan sosial di era digital jauh lebih kompleks. Media sosial sekarang sudah menjadi bagian dari infrastruktur sosial kehidupan anak muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, generasi muda saat ini hidup dalam ruang digital yang terus menuntut mereka untuk aktif, responsif, dan terlihat “baik-baik saja”. Akibatnya, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga arena kompetisi sosial dan emosional yang menguras energi psikologis.
Dalam risetnya terhadap anak muda Australia, Jun Fu menemukan banyak responden mengalami kelelahan digital akibat tekanan untuk terus mengelola identitas diri di media sosial. Sebagian mengaku sulit lepas dari kebiasaan doom scrolling, sementara sebagian lain mencoba melakukan digital disconnection demi menjaga kesehatan mental.
“Ada anak muda yang merasa media sosial membantu mereka tetap terkoneksi. Tetapi ada juga yang merasa lelah karena harus terus menjaga citra diri dan memenuhi ekspektasi sosial di ruang digital,” katanya.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk digital labour atau kerja emosional baru di era media sosial. Anak muda, menurutnya, kini tidak hanya bekerja atau belajar di dunia nyata, tetapi juga terus “bekerja” mempertahankan eksistensi sosial di dunia virtual.
Jun Fu menilai kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi ketahanan mental generasi muda. Ia mengingatkan bahwa perang psikologis di era digital sering kali berlangsung halus dan tidak disadari. Tekanan untuk selalu terhubung, ketakutan tertinggal informasi, hingga kebutuhan mendapatkan validasi sosial dinilai menjadi bagian dari dinamika psikologis baru generasi digital.
Dalam paparannya, ia juga menggunakan pendekatan multidisipliner dengan mengutip pemikiran Marshall McLuhan, Raymond Williams, dan Nick Couldry untuk menjelaskan bagaimana teknologi digital membentuk sekaligus dibentuk oleh kondisi sosial masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang forum berlangsung. Sejumlah mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan kritis terkait dampak media sosial terhadap relasi sosial dan budaya digital generasi muda.
Heidy Arviani mempertanyakan apakah ketergantungan generasi muda terhadap media sosial justru memperkuat hubungan sosial nyata atau malah menggantikan interaksi tatap muka. Menanggapi hal itu, Jun Fu menjelaskan bahwa hubungan manusia di era digital dibentuk oleh empat unsur besar: uang, teknologi, norma sosial, dan hukum.
Mahasiswa doktoral FISIP UNAIR, Heppy Jundan Hendrawan, juga mempertanyakan mengapa Jun Fu tidak banyak menggunakan pendekatan netnografi dalam riset media sosialnya. Jun Fu menjelaskan bahwa pilihan metodologi sangat bergantung pada tujuan dan pendekatan teoritik masing-masing peneliti.
Sementara itu, mahasiswa doktoral FISIP UNAIR, Bustomi, menyoroti kemungkinan riset komparatif budaya digital antara Indonesia, Australia, dan China. Jun Fu mengaku belum pernah melakukan penelitian komparatif tersebut, namun berharap suatu saat dapat mengembangkan riset lintas negara untuk memahami bagaimana budaya digital berkembang dalam konteks sosial yang berbeda-beda.
Diskusi selama hampir dua jam itu memperlihatkan bahwa tantangan generasi muda di era media sosial tidak lagi sekadar persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut ketahanan mental, stabilitas sosial, dan kemampuan menghadapi tekanan psikologis di ruang digital yang semakin kompleks. (Tom)


