Bogor, Pakuan Pos – Di tengah maraknya konten serupa yang beredar di media sosial, salah satu kreator menyuarakan kegelisahannya. Ia menegaskan tidak merasa bangga membuat konten yang hanya menjiplak karya orang lain.
"Jujur, saya tidak bangga bikin konten hasil jiplakan. Mungkin angkanya naik, mungkin ramai sebentar, tapi setelah itu apa? Tidak ada yang bisa saya sebut sebagai karya saya sendiri," ujarnya. Rabu, (8/4/26).
Menurutnya, tekanan untuk selalu mengikuti tren membuat banyak kreator memilih jalan pintas dengan meniru format, gaya bicara, bahkan narasi yang sudah terbukti viral. Padahal, cara itu justru menggerus nilai kreativitas dan membuat identitas kreator menjadi kabur.
Ia mengakui pernah tergoda mengikuti pola tersebut, namun akhirnya memilih berhenti. "Lebih baik sepi tapi orisinal, daripada ramai tapi kosong. Penonton boleh datang karena tren, tapi mereka hanya akan menetap kalau kita punya sesuatu yang khas," tambahnya.
Pernyataan itu muncul di tengah diskusi tentang kejenuhan audiens terhadap konten-konten yang terasa monoton meski dibuat oleh akun berbeda. Banyak warganet menanggapi positif, menilai sikap tersebut perlu dicontoh agar ruang digital tidak dipenuhi karya daur ulang tanpa nilai tambah.
Sang kreator menutup dengan pesan sederhana: tren boleh diikuti sebagai referensi, tapi jangan sampai menggantikan proses berpikir dan keberanian mencipta. (La)


