Nyaris Gugur di Pinrang: Detik-Detik Muhammad Jusuf Selamat dari Brondongan Peluru

0


Pakuan Pos – Pada awal April 1964, tanah Pinrang menjadi saksi peristiwa dramatis yang nyaris merenggut nyawa seorang perwira tinggi TNI, Muhammad Jusuf. Saat itu, ia menjabat sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin, sebuah posisi strategis di wilayah yang masih bergolak akibat sisa-sisa pemberontakan bersenjata.

Alih-alih mengedepankan kekuatan militer semata, Jusuf memilih jalan berani: pendekatan personal. Targetnya adalah Andi Selle, mantan komandan batalyon yang membelot dan memimpin kelompok bersenjata di Sulawesi Selatan. Pada 5 April 1964, Jusuf datang dengan niat tulus mengajak kembali ke pangkuan Republik, mengakhiri pertumpahan darah dengan dialog.


Namun, niat damai itu justru dibalas dengan pengkhianatan.

Di tengah suasana yang semula diharapkan menjadi ruang perundingan, tiba-tiba pecah serangan. Pasukan Andi Selle melancarkan penyergapan. Dentuman senjata memecah kesunyian, peluru beterbangan tanpa ampun. Baku tembak sengit tak terelakkan. Dalam sekejap, situasi berubah menjadi medan maut.

Di tengah kekacauan itu, loyalitas seorang prajurit diuji hingga batas tertinggi. Peltu Daud, salah satu pengawal setia Jusuf, menunjukkan pengorbanan luar biasa. Saat sang jenderal berusaha mencapai jip untuk menyelamatkan diri, Daud melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Ia gugur diterjang peluru, menjadi tameng hidup demi keselamatan komandannya—sebuah pengorbanan yang tak lekang oleh waktu.

Sementara itu, Jusuf berhasil mencapai kendaraan dan menerobos hujan peluru yang membabi buta. Dalam situasi yang nyaris mustahil, ia lolos tanpa luka sedikit pun. Banyak yang menyebut keselamatan itu sebagai keajaiban, sebuah takdir yang seolah masih menyimpan peran besar baginya di masa depan.

Di sisi lain, Andi Selle melarikan diri ke hutan, menghindari kejaran pasukan pemerintah. Namun pelariannya tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, ia tewas dalam operasi militer yang menutup bab pemberontakannya.

Peristiwa di Pinrang ini bukan sekadar kisah baku tembak. Ia adalah potret keberanian seorang pemimpin yang memilih jalan damai di tengah konflik, sekaligus cermin kesetiaan prajurit yang rela mengorbankan nyawa demi tugas. Dari medan penuh peluru itu, Muhammad Jusuf melangkah lebih jauh dalam karier militernya, hingga kelak mencapai puncak sebagai Panglima ABRI.

Sebuah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan takdir yang terukir abadi dalam sejarah militer Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top