Oleh: Syarifudin Yunus, Edukator DPLK Sinarmas AM
Pakuan Pos - Indonesia tengah berkejaran dengan waktu menghadapi gelombang penuaan populasi yang kian nyata di depan mata. Sejak resmi memasuki era ageing society pada tahun 2021 dengan proporsi lansia sebesar 10,31%, angka tersebut diproyeksikan melonjak drastis hingga menyentuh 20% pada tahun 2045 seiring meningkatnya usia harapan hidup menjadi 74 tahun. Sayangnya, laju pergeseran demografi ini belum diimbangi dengan kesiapan finansial yang memadai, sehingga membunyikan alarm darurat akan masa depan kesejahteraan hari tua jutaan keluarga di tanah air.
Potret ketenagakerjaan saat ini mempertegas tingginya kerentanan ekonomi masyarakat menjelang masa purnatugas. Sebanyak 59,42% angkatan kerja masih terkonsentrasi di sektor informal dengan rata-rata penghasilan hanya sekitar Rp1,94 juta per bulan serta latar belakang pendidikan setara SMP (rata-rata 9,41 tahun). Dengan kapasitas menabung yang sangat terbatas, risiko mewariskan beban finansial ke pundak anak-cucu kian tak terhindarkan, tecermin dari kenyataan bahwa 82,96% rumah tangga lansia saat ini masih bergantung pada kerabat yang bekerja. Artinya, 8 dari 10 lansia atau pensiunan sangat bergantung secara finansial pada anggota keluarga yang bekerja.
Realitas hari tua orang Indonesia diperparah oleh jurang yang lebar antara kesadaran dan kepemilikan dana pensiun atau program jaminan hari tua. Data menunjukkan tingkat literasi dana pensiun telah mencapai 27,79%, namun tingkat inklusinya sangat minim di angka 5,37%, dengan 82,9% pekerja belum memiliki program pensiun atau JHT. Rendahnya penetrasi jaminan hari tua—yang pada kelompok pekerja informal baru mencapai 0,5%—mengakibatkan hanya 5,43% lansia yang mampu menikmati hidup dari dana pensiun, sementara 55,32% lansia lainnya terpaksa terus membanting tulang demi menyambung hidup di sektor informal hingga usia tua.
Karena itu, mau tidak mau, menyiapkan dana pensiun sejak usia produktif bukan lagi sekadar pilihan cadangan, melainkan kebutuhan mutlak demi menjaga kemandirian hidup di hari tua. Merancang portofolio hari tua sejak dini merupakan benteng utama untuk memutus siklus generasi sandwich, sehingga masa purnatugas tidak menjadi beban bagi keluarga. Dengan menyisihkan dana secara konsisten sejak awal karier, pekerja dapat melindungi diri dari risiko penurunan taraf hidup ekstrem di saat fisik tak lagi prima untuk bekerja.
Untuk bisa siap memaasuki hari tua atau masa pensiun, setiap pekerja atau individu harus sadar akan pentingnya dana pensiun. Industri keuangan seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) pun dituntut menghadirkan terobosan produk pensiun yang fleksibel, terjangkau, dan menarik bagi pekerja mandiri serta generasi muda. Ekosistem pensiun yang adaptif, berpadu dengan layanan digital yang mudah diakses seperti aplikasi “SimPensiun” yang terintegrasi, menjadi kunci untuk mengubah ancaman krisis lansia atau pensiunan menjadi potensi silver economy yang produktif. Tanpa komitmen nyata untuk mulai menyisihkan dana pensiun hari ini, impian meraih masa tua yang bermartabat dan mandiri akan sulit terwujud.
Ketahuilah, setiap orang atau pekerja Indonesia membutuhkan tingkat penghasilan pensiun atau replacement ratio minimal sebesar 40% dari gaji terakhir (rekomendasi ILO). Tapi saat ini, tingkat penghasilan pensiunnya hanya 15-20% dari gaji terakhir. Sangat rendah dan tidak cukup untuk mempertahankan standar hidup di hari tua, apalagi sudah tidak bekerja dan tidak punya gaji lagi. Maka siapkan dana pensiun sekarang juga, mumpung masih bekerja dan masih punya waktu. Agar tidak bergantung secara finansial pada anak atau keluarga di hari tua.


