Di Cosmobeauté Indonesia 2026, Dr Renni Yuniati Suarakan Kemandirian Bahan Baku Kosmetik Nasional

0

 



Jakarta, Pakuan Pos – Industri kosmetik Indonesia tengah menghadapi paradoks. Negeri ini kaya bahan alam, namun sebagian besar bahan baku, kemasan, dan formulasi masih didatangkan dari luar. Di tengah persoalan struktural itu, muncul sosok yang bergerak dari hulu ke hilir, seorang dokter spesialis kulit yang membangun pabrik kosmetik bersertifikasi, meneliti kusta hingga forum internasional, dan mencetak generasi dokter wirausaha.

Dialah Dr. dr. Renni Yuniati, Sp.D.V.E., Subsp.D.T., FINSDV, FAADV, M.H., pakar dermatologi dan venereologi dengan subspesialisasi dermatologi tropik yang kini menjadi kandidat penghargaan Dokter Pendidik, Peneliti, dan Wirausahawan Berprestasi.

Lahir di Solo, 23 Juni 1972, Renni menempuh pendidikan kedokteran di FK UNS Surakarta (1997), spesialis kulit dan kelamin di FK Undip (2008), subspesialis Dermatologi Tropik, S2 Magister Hukum, hingga meraih gelar Doktor dari Universitas Diponegoro. Ia mengantongi fellowship internasional FINSDV dan FAADV. Saat ini ia aktif sebagai dokter spesialis konsultan di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RSND Universitas Diponegoro, sekaligus dosen tetap FK Undip sejak 2016.

Kiprahnya semakin relevan di tengah gelaran Cosmobeauté Indonesia 2026, pameran bisnis kecantikan terbesar ke-19 di Indonesia yang diselenggarakan pada 1–3 Oktober 2026 di Hall 5-9, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang. Menempati area 25.000 m² dengan lebih dari 600 perusahaan dan 1.550 lebih merek, pameran ini menampilkan sektor kosmetik dan skincare, perawatan rambut dan kuku, estetika dan kesehatan (spa & wellness), teknologi kecantikan, AI, dental aesthetics, hingga rantai pasok, kemasan, dan maklon.

Di ajang inilah gagasan Renni tentang kemandirian bahan baku menjadi kian relevan.

"Kita masih minim industri bahan baku. Kalau kita ingin maju, ya kita harus menasionalisasikan industri bahan baku," ujarnya dalam sebuah forum diskusi.

"Bahan baku sangat banyak, tapi tidak ada, sedikit. Jadi yang belinya tanaman dari Indonesia, juga dari Korea, Perancis, Spanyol, kita sudah gram-graman harganya, jadi repot," keluhnya. "Kemasan pun juga dari Cina," tambahnya.

Menurut Renni, Indonesia masih langka perusahaan yang memproduksi bahan baku, kemasan, dan formulasi secara mandiri.


Mendidik Calon Dokter Wirausaha

Sebagai pendidik, Renni tidak sekadar mengajar dermatologi. Ia adalah pengajar utama dan inisiator Course Elektif Doctorpreneurship di FK Undip, sebuah terobosan yang membekali mahasiswa kedokteran dengan ilmu kewirausahaan.

Kepeduliannya pada pengembangan ilmu terlihat dari perannya sebagai narasumber Sawit Academy Episode UNDIP 2025 yang membahas hilirisasi sawit menjadi sunscreen alami. Gagasan ini sejalan dengan visinya tentang kemandirian bahan baku nasional.


Meneliti Kusta hingga Barcelona

Di dunia riset, nama Renni telah menembus panggung global. Fokus penelitiannya adalah dermatologi tropik, terutama kusta atau Morbus Hansen, penyembuhan luka, dan inovasi bahan alami.

Per Maret 2026, metrik penelitiannya tercatat: Google Scholar 62 artikel, 200 sitasi, H-Index 8; Scopus 19 artikel, 57 sitasi, H-Index 5; serta SINTA Score Overall 808. Publikasi internasionalnya tersebar di jurnal Scopus Q2–Q4, termasuk Leprosy Review (2026) dengan artikel "Bridging the gap: A VR conceptual framework in dermatology for leprosy diagnosis training".

Ia juga meneliti ekstrak ikan gabus (Channa striata) untuk ulkus tropik pada kusta, dan ekstrak Clitoria ternatea untuk reaksi lepra. Sebagai ketua peneliti, ia memimpin berbagai hibah BIMA dan FK Undip, seperti validasi in silico dan in vitro senyawa bioaktif dari Centella asiatica sebagai inhibitor Mycobacterium leprae (2025), serta efikasi ekstrak Curcuma longa dan Moringa oleifera sebagai terapi adjuvan ulkus kusta (2025).

Ia menjadi oral presenter di 7th International Conference on Dermatology and Cosmetology (IDC 2026) di Barcelona dengan topik "Latest innovations in leprosy diagnosis and therapy", serta pembicara utama di 22nd International Leprosy Congress (ILC 2025) di Bali Nusa Dua dengan topik "Invisible Scars: The Silent Impact of Leprosy on Indonesian Quality of Life and Strategies for Eradication Through Adaptation".

Inovasinya telah dipatenkan. Pada 2020, ia meraih dua paten: formula kombinasi ekstrak Holothuria scabra dan Ozonated Virgin Coconut Oil sebagai agen antiinflamasi topikal, serta formula ekstrak Holothuria scabra dan Spirulina platensis untuk tujuan serupa. Ia juga menulis buku ajar Lepra, Dermatomikosis, Kusta, dan Pedoman Strategi Eradikasi Kusta (2019).


Membangun Pabrik Kosmetik Bersertifikat

Yang membedakan Renni dari kebanyakan akademisi adalah kemampuannya menerjemahkan ilmu menjadi usaha nyata. Melalui PT Muntira Kosmeditama (Munkos), perusahaan manufaktur dan maklon skincare yang dirintisnya sejak 2006 dan memiliki pabrik di Kudus sejak 2011, ia membuktikan dokter bisa menjadi wirausahawan.

Munkos telah mengantongi sertifikasi CPKB Grade A dari BPOM, lisensi kosmetik resmi (2021), dan Sertifikat Halal (2024).

"Harapannya kita berkontribusi untuk meningkatkan kualitas kosmetik Indonesia menjadi barometer untuk pengembangan dan pengangkatan bahan alam yang lebih bagus. Kita bisa menjadi leader di bidang bahan alam di Indonesia," ujarnya.

Dalam konteks Cosmobeauté Indonesia 2026, keberadaan Munkos sebagai perusahaan maklon bersertifikat CPKB Grade A menjadi bukti bahwa ekosistem kosmetik nasional memiliki aktor yang mampu bersaing di rantai pasok global.


Edukasi Klinik Kecantikan yang Benar

Sebagai dokter kulit, Renni juga vokal mengedukasi publik tentang pentingnya memilih klinik kecantikan yang sesuai aturan.

"Sesuai dengan aturan pemerintah, jadi memang sudah kompetensinya. Kalau dia sudah ada bukti kompeten, ya silahkan berpraktek," jelasnya.

Ia menekankan perbedaan mendasar antara obat dan kosmetik.

"Kalau obat disuruh bebas itu ilegal, kan meracikan. Itu obat, nggak boleh, karena eksamennya kan besar. Kalau kosmetik, enggak ada masalah. Kalau itu ada notifikasi BPOM," paparnya.

Menurutnya, klinik kecantikan yang benar harus didampingi dokter, terutama dokter kulit.

Ia juga merumuskan strategi pemberantasan kusta dengan melibatkan tokoh agama, kyai, imam, hingga pastor untuk menghapus stigma sosial. Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa kusta bukan hanya persoalan medis, tetapi juga sosial.

"Anak muda itu jangan merasa sudah cukup. Mereka kan katanya hanya melihat, tidak menjadi pelaku. Nah, kalau jadi pelaku ya memang harus bangun sendiri," pesannya kepada generasi muda. (Har) 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top