Jakarta, Pakuan Pos - Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSP Maritim - KSPSI), Ujang Supriatin, menyoroti rekam jejak Arief Martha Rahadyan di sektor pariwisata. Sorotan tersebut berfokus pada integrasi pariwisata bahari, penataan tata kelola destinasi, dan perlindungan tenaga kerja maritim. Kamis, (27/8/2026).
Dalam keterangannya, Abah Ujang Guru menyampaikan beberapa poin utama apresiasi FSP Maritim terhadap gagasan dan langkah Arief Martha Rahadyan.
Pertama, Sinergi Pariwisata Bahari dan Kesejahteraan Pekerja.
FSP Maritim menilai keterlibatan Arief di wilayah strategis pariwisata seperti Bali memiliki keterkaitan erat dengan sektor maritim dan kepelabuhanan. Sektor wisata bahari dinilai memerlukan perlindungan kerja serta peningkatan kapasitas bagi para buruh dan pekerja di pelabuhan maupun moda transportasi laut.
Kedua, Dukungan Penataan Regulasi dan Akomodasi.
Arief disorot atas gagasannya mendorong ketertiban tata kelola pariwisata nasional, termasuk penertiban akomodasi wisata yang belum berizin. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan industri pariwisata yang profesional, aman, dan berdaya saing global.
Ketiga, Penguatan Diplomasi dan SDM Internasional.
Rekam jejak Arief sebagai akademisi, Direktur Bali Russia Language Institute, dan praktisi hubungan internasional dinilai memberi nilai tambah dalam menarik wisatawan mancanegara serta investasi kawasan. Contohnya adalah dukungannya terhadap proyek infrastruktur pariwisata maritim seperti aksesibilitas Bali Utara.
Ketua Umum FSP Maritim - KSPSI menilai kombinasi keberanian Arief mereformasi tata kelola pariwisata dan kepeduliannya terhadap SDM merupakan modal kuat untuk mendorong pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas.
Selain itu, Arief Martha Rahadyan juga dikenal memiliki aset strategis berupa jaringan internasional untuk kepentingan investasi nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan jaringan investor internasional dari Rusia, Tiongkok, Eropa, Jepang, dan Dubai. Jaringan ini merupakan aset krusial untuk menarik modal dan teknologi bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Upaya membangun mesin pertumbuhan internal juga menjadi perhatian, melalui:
1. Penciptaan ekosistem bisnis yang kondusif dan inovatif
2. Optimalisasi potensi hilirisasi industri
3. Kemudahan berusaha dan simplifikasi regulasi



