Asisten Strategis Panglima TNI: Kemandirian Industri Munisi Jadi Fondasi Kedaulatan Pertahanan RI

0

 


Jakarta, Pakuan Pos – Asisten Strategis (Asstra) Panglima TNI, Marsda TNI Budhi Achmadi, menilai pembangunan industri propelan dan munisi yang menjadi perhatian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner untuk memperkuat kemandirian pertahanan Indonesia di tengah dinamika geopolitik dan perubahan karakter perang modern.

Menurut Budhi Achmadi, perang abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan platform militer seperti kapal perang, pesawat tempur, maupun kendaraan tempur, tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan sebuah negara memproduksi amunisi, propelan, bom, roket, rudal, serta material energetik secara mandiri dan berkelanjutan.

"Perang modern telah mengubah cara negara membangun kekuatan militernya. Jika pada masa lalu kebanggaan pembangunan industri pertahanan lebih banyak diidentikkan dengan membangun platform militer, pengalaman berbagai konflik global justru menunjukkan kenyataan yang berbeda. Platform hanyalah alat penghantar daya tempur. Kemampuan memenangkan perang pada akhirnya ditentukan oleh tersedianya instrumen pemukul utama secara berkelanjutan, yaitu amunisi, propelan, bom, roket, rudal, dan material energetik," kata Budhi, Minggu (5/7/2026).

Ia menjelaskan, banyak negara selama beberapa dekade terjebak pada paradigma membangun platform persenjataan, namun tetap bergantung kepada negara lain untuk memperoleh propelan, bahan peledak, maupun amunisi.

"Ketergantungan itu mungkin tidak terasa saat damai. Namun ketika perang, konflik regional, atau embargo terjadi, kelemahan tersebut berubah menjadi kerentanan strategis yang dapat melumpuhkan kemampuan tempur," ujarnya.

Budhi mencontohkan perang Rusia - Ukraina sebagai bukti nyata bahwa industri amunisi menjadi faktor penentu keberlangsungan operasi militer.

"Ribuan tank, kendaraan tempur, pesawat nirawak, dan sistem artileri hanya dapat beroperasi apabila tersedia pasokan amunisi dalam jumlah besar. Ketika persediaan peluru artileri menurun, intensitas operasi militer ikut menurun. Negara-negara NATO kemudian meningkatkan kapasitas produksi amunisi secara besar-besaran karena menyadari bahwa perang modern telah kembali menjadi perang industri," jelasnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk membangun kemandirian industri pertahanan, khususnya pada sektor propelan dan munisi.

"Salah satu terobosan penting adalah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan industri propelan dan munisi sebagai fondasi kekuatan pertahanan dan keamanan negara. Orientasi pembangunan tidak lagi hanya bertumpu pada penguasaan platform, tetapi mulai diarahkan pada penguasaan teknologi yang menjadi sumber daya hancur sistem persenjataan, yaitu propelan dan munisi," ujarnya.

Budhi menegaskan, kemandirian pertahanan tidak cukup diwujudkan melalui kemampuan membangun kapal perang, pesawat tempur, kendaraan tempur, maupun sistem elektronika.

"Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan memproduksi sendiri propelan, bahan peledak, amunisi, roket, dan rudal sebagai instrumen pemukul utama pertahanan negara," tegasnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan mendukung program kemandirian industri propelan dan munisi nasional karena manfaatnya tidak hanya dirasakan sektor pertahanan, tetapi juga mendorong kemajuan riset kimia, material maju, metalurgi, manufaktur presisi, hingga rekayasa propulsi nasional.

"Ke depan, pembangunan industri pertahanan Indonesia perlu diarahkan secara konsisten pada pembentukan ekosistem material energetik yang utuh, mulai dari bahan baku strategis, propelan, bahan peledak militer, industri munisi, hingga pengembangan teknologi roket dan rudal nasional. Sinergi antara pemerintah, TNI, industri pertahanan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian menjadi prasyarat agar agenda tersebut dapat berkelanjutan," katanya.

Mengakhiri pandangannya, Budhi menegaskan, sejarah perang telah membuktikan kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan platform persenjataan.

"Negara tidak memenangkan peperangan hanya karena memiliki platform yang modern. Kemenangan ditentukan oleh kemampuan mempertahankan daya tempur melalui pasokan amunisi, propelan, dan instrumen pemukul utama secara berkesinambungan. Karena itu, perhatian pemerintahan Presiden Prabowo terhadap pembangunan industri propelan dan munisi merupakan langkah strategis yang visioner. Kebijakan ini bukan sekadar membangun industri baru, melainkan membangun fondasi kedaulatan pertahanan Indonesia untuk menghadapi tantangan geopolitik abad ke-21," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top