Washington, Pakuan Pos – Amerika Serikat menghadapi isolasi militer yang kian nyata di tengah perang melawan Iran. Spanyol, Italia, Prancis, Austria, Kuwait, dan Bahrain secara resmi memblokir akses militer AS dengan menutup pangkalan, wilayah udara, dan jalur logistik untuk Operasi Epic Fury.
Langkah blokade ini memukul jalur suplai utama Washington. Italia menutup Pangkalan Sigonella di Sisilia setelah geram karena pesawat militer AS disebut masuk wilayahnya tanpa izin. Kuwait dan Bahrain telah menutup total wilayah udaranya sejak awal Maret 2026, mempersulit pergerakan logistik AS di kawasan Teluk secara drastis.
Presiden Donald Trump meluapkan kemarahan melalui platform Truth Social. "Prancis tidak mengizinkan pesawat menuju Israel terbang di atasnya. Amerika Serikat akan mengingatnya," tulis Trump.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga mengkritik tajam sikap sekutu. Menurut Rubio, sejumlah negara hanya mau dibela saat situasi sulit, tetapi menolak membantu ketika Washington meminta dukungan.
Di tengah tekanan itu, Arab Saudi yang sebelumnya menyatakan netral kini mulai membuka pangkalan udaranya untuk militer AS. Turki menjadi satu-satunya jalur udara alternatif yang tersisa, namun lalu lintasnya kini sangat padat. Sementara itu, Irak menangguhkan seluruh penerbangan di wilayah udaranya.
Kondisi ini membuat AS tak hanya berperang melawan Iran, tetapi juga berhadapan dengan “pemberontakan diam-diam” dari sekutu NATO dan sejumlah negara Teluk. Jalur logistik Operasi Epic Fury kian menyempit.
Pertanyaannya kini: seberapa lama Washington mampu menopang operasi militernya jika akses pangkalan dan wilayah udara terus dipersempit oleh negara-negara yang dulu menjadi mitra terdekat?


