Pakuan Pos - Sejarah mencatat bahwa salah satu strategi paling efektif untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah politik adu domba. Dalam praktiknya, strategi ini dijalankan dengan memecah belah kekuatan rakyat, membenturkan satu kelompok dengan kelompok lain, lalu tampil sebagai penyelamat atau pengendali tunggal.
Gaya politik semacam ini bukan hal baru di Indonesia. Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masanya dikenal piawai menggunakan politik pecah belah sebagai instrumen mobilisasi dan konsolidasi kekuatan.
1. Memanfaatkan Konflik Horizontal
PKI secara sistematis memetakan keretakan sosial yang ada di masyarakat. Sentimen antara tuan tanah dan petani, buruh dan pengusaha, santri dan abangan, bahkan antar-etnis, dibesar-besarkan. Isu kecil diprovokasi menjadi konflik besar. Tujuannya jelas: menciptakan kelas yang merasa tertindas, lalu mengarahkan kemarahan itu untuk kepentingan politik partai.
2. Membentuk Front-Front untuk Mengotak-kotakkan Rakyat
Lewat organisasi sayap seperti BTI untuk petani, SOBSI untuk buruh, Gerwani untuk perempuan, Lekra untuk seniman, dan Pemuda Rakyat untuk kaum muda, PKI memecah masyarakat ke dalam kotak-kotak identitas. Setiap front digerakkan dengan narasi “kita versus mereka”. Solidaritas nasional diganti dengan loyalitas sektoral kepada partai. Hasilnya, bangsa yang seharusnya bersatu justru terkotak-kotak dan mudah dibenturkan.
3. Propaganda: Menciptakan Musuh Bersama
Gaya PKI dalam berpolitik tidak lepas dari propaganda masif. Siapa pun yang berbeda haluan langsung dicap sebagai “kontra-revolusi”, “tujuh setan desa”, “kapitalis birokrat”, atau “antek imperialis”. Label ini sengaja diciptakan untuk mengisolasi lawan politik dan melegitimasi aksi sepihak di lapangan. Ketika musuh bersama sudah terbentuk, massa lebih mudah digerakkan untuk bertindak atas nama “perjuangan kelas”.
4. Adu Domba Antar-Elite dan Antar-Lembaga
PKI juga memainkan politik adu domba di level elite. Hubungan TNI AD dengan Presiden, hubungan partai-partai politik, hingga hubungan lembaga negara, semua dimasuki untuk dipecah. Dengan menyebar isu, intrik, dan saling curiga, PKI memposisikan diri sebagai penyeimbang yang dibutuhkan semua pihak, padahal tujuan akhirnya adalah menguasai.
5. Hasil Akhir: Kekacauan untuk Merebut Kekuasaan
Pola ini berpuncak pada situasi chaos. Ketika rakyat terbelah, elite saling curiga, dan institusi negara dilemahkan dari dalam, maka pintu kudeta dan pengambilalihan kekuasaan terbuka lebar. Sejarah G30S/PKI menjadi contoh nyata bagaimana politik pecah belah dipakai sebagai jalan pintas menuju kekuasaan.
Pelajaran Hari Ini
Politik adu domba gaya PKI bukan sekadar catatan sejarah. Polanya masih bisa dibaca hingga sekarang: besarkan perbedaan, ciptakan musuh bersama, kotakkan masyarakat, lalu tawarkan diri sebagai solusi tunggal.
Bangsa yang tidak waspada akan mudah dipecah. Dan bangsa yang pecah akan mudah dikuasai. Karena itu, mengenali ciri politik pecah belah adalah langkah pertama untuk melawannya: tolak provokasi, jaga persatuan, dan jangan biarkan siapa pun berkuasa dengan cara membenturkan rakyat dengan rakyat.


