Pakuan Pos - Di perusahaan itu, kejujuran bukan dilarang.
Hanya tidak punya masa depan.
Setiap pagi, rapat dimulai dengan kalimat pembuka yang sama:
“Pak, ide Bapak luar biasa.”
Tak penting ide apa. Bahkan ketika Direktur pernah mengusulkan agar kantor memasang patung dirinya di lobi “sebagai simbol inspirasi”, semua orang mengangguk seperti baru saja menemukan teori gravitasi kedua.
Yang tidak mengangguk, biasanya tidak lama bekerja di sana.
Raka tahu aturan tak tertulis itu. Semua orang tahu. Tapi seperti papan peringatan di jurang, tulisan itu ada hanya untuk dilihat, bukan untuk diikuti.
Rapat strategi tahunan dimulai. Slide presentasi penuh grafik naik, panah ke atas, warna hijau cerah. Seolah-olah perusahaan sedang menanjak menuju surga bisnis.
Tak ada slide tentang utang yang diam-diam membengkak.
Tak ada grafik tentang proyek gagal yang disembunyikan di folder bernama arsip.
Tak ada data tentang karyawan yang keluar satu per satu tanpa perpisahan.
Karena angka yang tidak menyenangkan bukan untuk ditampilkan.
Angka seperti itu tidak sopan.
Direktur berdiri dengan percaya diri.
“Tahun ini kita ekspansi besar-besaran!”
Tepuk tangan pecah. Cepat. Kompak. Terlatih.
Seorang manajer menambahkan, “Langkah visioner, Pak.”
Yang lain menyusul, “Berani dan progresif.”
Raka mengangkat tangan.
Tepuk tangan berhenti seperti listrik diputus.
“Pak, laporan keuangan kita belum stabil. Ekspansi sekarang berisiko tinggi. Kita bisa kolaps.”
Ruangan membeku.
Senyum Direktur tetap ada, tapi matanya berubah dingin.
“Kamu selalu melihat masalah, Raka.”
Seorang manajer cepat menyela, “Justru karena Bapak berani, perusahaan ini maju.”
Yang lain menimpali, “Kalau semua orang takut risiko, kita tidak akan berkembang.”
Raka mengerti. Di ruangan itu, optimisme palsu lebih sopan daripada fakta.
Enam bulan kemudian, perusahaan runtuh pelan-pelan.
Tidak dramatis. Tidak meledak.
Hanya proyek berhenti, klien menghilang, dan email PHK dikirim dengan font ramah.
Rapat darurat digelar.
Direktur berbicara dengan nada sedih yang terlatih.
“Kita harus melakukan efisiensi.”
Kata “efisiensi” selalu berarti orang-orang yang jujur akan pulang lebih dulu.
Daftar nama dibacakan.
Raka ada di urutan ketiga.
Yang membaca daftar itu adalah manajer yang dulu menyebut ide patung direktur sebagai “visioner”.
Sebulan setelah badai, perusahaan mengumumkan restrukturisasi.
Direktur tetap menjabat.
Para penjilat naik jabatan.
Mereka kini duduk di kursi yang lebih empuk, di ruangan yang lebih sunyi, mengulang ritual yang sama:
“Pak, keputusan Bapak tepat.”
“Pak, ini langkah terbaik.”
“Pak, kami percaya penuh.”
Gedung perusahaan masih berdiri. Logo masih menyala.
Hanya isinya yang kosong—dipenuhi gema pujian yang saling memantul.
Dan di papan visi perusahaan, kalimat besar itu masih terpajang:
“Kami menghargai keberanian untuk berbicara.”
Kalimat itu tidak pernah dihapus.
Karena ironi, di tempat itu, adalah dekorasi terbaik.


