Bogor, Pakuan Pos – Karinding Camp kembali digelar dengan tajuk “Ruang Riung Reang” Karinding #2. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 30–31 Mei 2026, di Lingkung Gunung Pancawati, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Mengusung semangat “Ngariung Ngareuah Reuah Ngamumule Karinding”, acara ini menjadi ruang temu bagi pegiat seni tradisi, komunitas, pelajar, hingga masyarakat umum untuk merawat dan merayakan musik karinding sebagai warisan budaya Sunda.
Beragam agenda disiapkan untuk menghidupkan suasana kebersamaan khas Sunda. Rangkaian acara meliputi pentas musik tradisi, ngariung budaya, sharing dan diskusi karinding, wisata budaya, bazar UMKM tradisional, workshop karinding, ngabungbung dan api unggun, penanaman pohon bambu dan kawung, hingga jamming seasons lintas komunitas.
Karinding Camp #2 tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga mengajak peserta terlibat langsung. Melalui workshop karinding, pengunjung bisa belajar membuat dan memainkan alat musik bambu ini langsung dari para maestro dan pegiat karinding. Sesi sharing dan diskusi membuka ruang tukar pikiran tentang sejarah, filosofi, serta tantangan pelestarian karinding di era digital.
Unsur ekologis juga jadi perhatian. Kegiatan penanaman pohon bambu dan kawung digelar sebagai simbol keberlanjutan. Bambu adalah bahan baku utama karinding, sementara pohon kawung atau aren lekat dengan budaya Sunda. Penanaman ini menjadi pesan bahwa merawat budaya tak lepas dari merawat alam.
Malam harinya, suasana hangat dibangun lewat ngabungbung dan api unggun. Peserta akan ngariung bersama, berbagi cerita, musik, dan refleksi dalam nuansa akrab khas masyarakat Sunda. Jamming seasons akan mempertemukan karinding dengan alat musik tradisi lain maupun musik modern dalam kolaborasi spontan.
Tak ketinggalan, wisata budaya dan bazar UMKM tradisional turut dihadirkan. Pengunjung dapat mengenal lebih dekat kearifan lokal Desa Cimande sekaligus mendukung produk-produk perajin dan pelaku UMKM setempat.
Karinding Camp “Ruang Riung Reang” terbuka untuk umum. Panitia berharap kegiatan ini menjadi oase budaya yang menyatukan edukasi, hiburan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan ngariung bersama di kaki Gunung Pancawati, karinding tak sekadar dibunyikan, tapi juga dimaknai dan dimuliakan. (Aj)


