Esensi Hari Kartini: Lebih dari Kebaya dan Sanggul

0


Pakuan Pos - Setiap 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut di sekolah, kantor, hingga media sosial. Kebaya dipakai, sanggul ditata, lomba-lomba digelar. Namun di balik semua perayaan itu, ada satu pertanyaan penting yang layak kita renungkan: apa sebenarnya esensi Hari Kartini?


1. Keberanian untuk berpikir dan mempertanyakan

Esensi pertama dari perjuangan Kartini adalah keberanian berpikir. Di masa ketika perempuan dianggap cukup di rumah, Kartini memilih menulis, membaca, dan mempertanyakan keadaan. Lewat surat-suratnya kepada sahabat di Belanda, ia menggugat mengapa anak perempuan tidak boleh sekolah tinggi, mengapa pernikahan jadi satu-satunya jalan hidup. Hari Kartini mengingatkan bahwa kemajuan lahir dari keberanian mengajukan pertanyaan, bukan dari diam menerima nasib.


2. Pendidikan sebagai jalan pembebasan  

Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci. Bukan sekadar bisa membaca dan menulis, tapi pendidikan yang memerdekakan pikiran. Ia ingin perempuan bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri: mau menikah atau tidak, mau bekerja atau berkarya di rumah, semua berdasarkan kesadaran, bukan paksaan. Esensi Hari Kartini adalah menegaskan bahwa sekolah bukan cuma hak laki-laki. Sampai hari ini, pesan itu masih relevan. Masih ada anak perempuan yang harus berhenti sekolah karena ekonomi, pernikahan dini, atau budaya. Selama itu ada, semangat Kartini belum selesai.


3. Emansipasi bukan melawan, tapi menyejajarkan

Banyak yang keliru memaknai emansipasi sebagai “perempuan melawan laki-laki”. Kartini tidak pernah mengajarkan itu. Yang ia perjuangkan adalah kesetaraan kesempatan. Ia ingin perempuan dan laki-laki berjalan beriringan, saling menghargai, saling mendukung. Esensi Hari Kartini adalah soal kemanusiaan: bahwa setiap orang, apa pun jenis kelaminnya, berhak tumbuh, berhak bermimpi, berhak dihormati pilihannya.


4. Mencintai bangsa tanpa menolak kemajuan

Kartini mencintai budaya Jawa. Ia memakai kebaya, membatik, menghormati orang tua. Tapi di saat yang sama ia haus pada ilmu dari Barat, belajar bahasa Belanda, dan terbuka pada pemikiran baru. Esensinya jelas: menjadi modern tidak berarti mencabut akar. Kita bisa maju, bisa kritis, bisa setara, sambil tetap bangga jadi orang Indonesia. Inilah yang membuat Hari Kartini berbeda dari sekadar “hari pakaian adat”. Pakaian adat hanya simbol. Jiwanya adalah keberanian menyatukan tradisi dan kemajuan.


5. Perjuangan yang dilanjutkan, bukan dikenang saja

Kartini wafat di usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan. Ia tidak sempat melihat sekolah perempuan yang ia cita-citakan. Tapi surat-suratnya dibaca, lalu menggerakkan banyak orang untuk mendirikan sekolah. Artinya, esensi Hari Kartini bukan nostalgia. Ia adalah estafet. Tugas kita hari ini memastikan tidak ada lagi anak perempuan yang putus sekolah, tidak ada lagi pekerja perempuan yang digaji lebih rendah hanya karena gendernya, tidak ada lagi suara perempuan yang dibungkam.

Pada akhirnya, esensi Hari Kartini tidak terletak pada seberapa rapi konde kita atau seberapa mahal kebaya yang dipakai. Ia terletak pada pertanyaan: apakah kita sudah memberi ruang bagi perempuan dan laki-laki untuk tumbuh setara? Apakah kita sudah berani berpikir, belajar, dan bersikap adil? 

Karena “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan mantra yang dihafal setiap 21 April. Ia adalah pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan setiap hari.

Oleh: Ela Nurlaela S.AP

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top