Surabaya, Pakuan Pos - Senin siang, suasana Ballroom Grand Hotel Surabaya dipenuhi wajah-wajah lintas generasi. Ada yang sudah sepuh, ada pula anak-anak yang baru belajar menghafal ayat suci. Mereka datang dari satu akar yang sama yaitu keturunan Abdul Hamid dan Rukhayah. Dalam momen Halal Bihalal 2026, Ikatan Keluarga Bani Abdul Hamid (IKBAH) kembali merawat tradisi yang telah dijaga selama empat dekade.
Tak banyak yang menyangka, komunitas besar ini berawal dari pertemuan sederhana yakni arisan keluarga. Saat itu, jumlah anggota masih terbatas. Ikatan dibangun dari perjumpaan rutin, saling mengenal, dan menjaga kedekatan antar kerabat.
“Awalnya hanya arisan keluarga, ketika anak-turun masih sedikit,” ujar Ahmad Fauzi, salah satu anggota keluarga dari garis M. Ridwan. Senin, (23/3/26).
Kini, jumlah anggota IKBAH telah berkembang menjadi lebih dari 500 jiwa, tersebar di berbagai daerah. Pertumbuhan itu membawa tantangan baru yaitu bagaimana menjaga agar satu sama lain tetap saling mengenal. Halal Bihalal pun menjadi ruang penting untuk merawat ikatan tersebut.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sebuah penanda bahwa tradisi ini tak hanya dijaga, tetapi juga diwariskan. Lagu Mars IKBAH yang digubah Ketua IKBAH, H. Adil Mastjik, kemudian menggema, menguatkan identitas kolektif keluarga besar ini.
Namun, Halal Bihalal kali ini tak sekadar temu kangen. Ada upaya untuk melangkah lebih jauh. Untuk pertama kalinya, IKBAH menggelar sesi talkshow yang menghadirkan perwakilan tiap garis keturunan atau “kabilah”. Forum ini menjadi ruang berbagi gagasan sekaligus membaca arah masa depan.
Sejumlah ide mengemuka. Mulai dari pembentukan dana abadi yang bersifat produktif, hingga penguatan program pendidikan bagi anggota keluarga yang membutuhkan. Ada pula usulan agar Halal Bihalal ke depan digelar di luar Surabaya, agar jangkauan kebersamaan semakin luas.
“kita perlu inovasi agar semua anggota bisa saling mengenal lebih dekat,” ujar salah satu pengurus.
Gagasan tentang dana pendidikan menjadi salah satu yang mulai diwujudkan. Program ini ditujukan untuk membantu anggota keluarga yang membutuhkan akses pendidikan, sekaligus menjadi bentuk konkret dari semangat gotong royong yang selama ini dijaga.
Dalam sesi tausiyah, Drs. Ahmad Mukarom, M.Hum., mengingatkan bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan jalan untuk menyelesaikan relasi antar manusia.
“Tidak semua persoalan selesai dengan ibadah personal. Ada yang harus dituntaskan dengan saling memaafkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi halal bihalal yang khas Indonesia ini justru menjadi cara ulama terdahulu untuk merawat hubungan sosial, sekaligus mengembalikan manusia pada fitrahnya.
Di sela-sela rangkaian acara, panggung juga menjadi milik generasi muda. Anak-anak dari generasi Z dan Alpha menampilkan hafalan surat pendek, bernyanyi, hingga berbagai ekspresi kreatif lainnya. Di situlah, masa depan IKBAH tampak tumbuh, pelan tapi pasti.
Menutup acara, Adil Mastjik menyerahkan buku karyanya berjudul “Dakwah, Pendidikan dan Indonesia Emas 2045: Tiga Puluh Kajian Tentang Persoalan Keseharian”. Sebuah simbol bahwa keluarga bukan hanya ruang silaturahmi, tetapi juga tempat tumbuhnya gagasan.
Empat puluh tahun telah berlalu sejak IKBAH pertama kali dirintis pada tahun 1986. Dari arisan sederhana, ia menjelma menjadi komunitas besar. Namun satu hal tetap dijaga yakni ikatan. Di tengah jumlah anggota yang terus bertambah dan zaman yang terus berubah, IKBAH menunjukkan bahwa keluarga bukan sekadar garis keturunan, melainkan komitmen untuk terus saling terhubung. (Tom)


