Istana Bogor: Panggung Diplomasi Dunia dan Kenangan Warga Bogor Sejak Era Soekarno

0

 


Taufik Hassunna 


Pakuan Pos - Istana Bogor bukan hanya simbol diplomasi Indonesia, tapi juga jantung kehidupan kota yang penuh cerita dari warga Bogor. Sejak era Soekarno, istana ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ingatan kolektif masyarakat setempat—dari kegembiraan menyambut helikopter presiden hingga partisipasi anak-anak dalam upacara sambutan. Lokasinya di Jalan Ir. H. Juanda No. 1, Bogor Tengah, membuatnya dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, di mana suara helikopter dan bendera kuning menjadi penanda akhir pekan yang dinanti.

Dibangun sejak 1744 sebagai Het Paleis te Buitenzorg oleh Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff, istana berevolusi menjadi saksi perundingan global sambil tetap menjadi "rumah besar" bagi rakyat Bogor. Di era Soekarno (1945-1967), Istana Bogor adalah tempat favorit presiden untuk menerima tamu negara, memanfaatkan udara sejuknya sebagai latar pertemuan informal di tengah gejolak politik Jakarta. Warga Bogor mengenangnya sebagai periode kebanggaan nasional, di mana istana tak lagi sekadar bangunan kolonial, tapi pusat diplomasi yang melibatkan masyarakat. Kunjungan tamu negara sering disambut dengan antusiasme lokal, mencerminkan ikatan erat antara istana dan rakyat—sebuah warisan yang masih hidup dalam cerita turun-temurun.


Momen Penting dalam Sejarah Diplomasi, Dilihat dari Kenangan Warga

1. Konferensi Colombo Powers (Bogor, 1954)

Langkah awal menuju Konferensi Asia-Afrika (KAA), di mana lima negara Asia—Indonesia, India, Burma, Pakistan, dan Ceylon—berkumpul di Istana Bogor untuk sepakat tak memihak blok Barat-Timur, menjadi embrio Gerakan Non-Blok. Bagi warga Bogor, momen ini dikenang sebagai awal "era istana terbuka", di mana hiruk-pikuk persiapan membuat jalan-jalan kota ramai dengan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan ringan.


2. Kunjungan Ho Chi Minh (Vietnam, 1959)

Bung Karno menyambut Presiden Ho Chi Minh di Istana Bogor untuk membahas perjuangan anti-kolonial. Warga lokal mengingat kedatangan rombongan sebagai pesta kecil, dengan anak-anak berlari ke pinggir jalan untuk melambai, merasakan getaran solidaritas Asia yang dibawa Soekarno ke Bogor.


3. Kunjungan Nikita Khrushchev (Uni Soviet, 1960)

Pertemuan empat jam di teras belakang Istana Bogor membahas bantuan di tengah Perang Dingin. Kenangan warga Bogor penuh euforia: ribuan orang memadati Jalan Jenderal Sudirman, mengibarkan bendera kecil sambil bernyanyi, menjadikan kunjungan ini sebagai simbol antusiasme terhadap diplomasi Soekarno yang "membawa dunia ke pintu rumah".


4. Kunjungan Kim Il Sung (Korea Utara, 1965)

Bung Karno mengajak Kim Il Sung ke Kebun Raya Bogor dan menghadiahkan anggrek _Kimilsungia_, simbol persahabatan. Dari perspektif warga, ini adalah momen magis di mana istana terasa seperti taman bersama; anak-anak sekolah ikut aubade di lapangan istana, berdiri tegar sambil melambai, memperkuat rasa kebersamaan sejak usia dini.


5. KTT APEC (Bogor, 1994)

Pertemuan pertama APEC di Indonesia menghasilkan Deklarasi Bogor untuk perdagangan bebas. Warga Bogor mengenangnya sebagai "pesta global" yang menyemarakkan ekonomi lokal, dengan pedagang makanan seperti penjual es cendol ikut merasakan manfaat dari keramaian delegasi.


6. Kunjungan Raja Salman (Arab Saudi, 2017)

Sambutan di tengah hujan deras dengan rombongan 1.500 orang menandai peningkatan hubungan bilateral. Bagi warga, ini melanjutkan tradisi sambutan hangat, meski cuaca Bogor yang khas menambah cerita tentang ketangguhan masyarakat.

7. Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak (2007)

Menghasilkan Deklarasi Bogor untuk rekonsiliasi.


Istana Bogor dalam Kenangan Warga Bogor Sejak Era Soekarno

Era Soekarno membentuk identitas istana sebagai "rumah rakyat". Setiap Jumat pagi, pengibaran *bendera kuning* menjadi sinyal ikonik: Bung Karno akan tiba sore hari dengan helikopter putih atau abu-abu (jenis Bell 47 atau Sikorsky S-55) yang terbang rendah dari Jakarta, melintasi langit Sempur sebelum mendarat di lapangan istana, menginap hingga Minggu. Dari perspektif keluarga lokal, seperti pedagang di sekitar Jalan Ir. H. Juanda, suara rotor helikopter yang bergema di lembah Bogor—menjadi "jam weker alam" bagi anak-anak yang berlari ke halaman rumah untuk melambai. Orang tua berbagi cerita turun-temurun tentang Soekarno yang sering melambai balik dari jendela helikopter, sebagai gestur keramahan, membuat ritual ini terasa seperti "kunjungan tetangga".

Indonesia sebagai negara pertama dengan skuadron helikopter kepresidenan pada 1950-an, berbasis di Lanud Atang Sendjaja dekat Bogor, memperkuat peran kota sebagai basis peristirahatan Soekarno—sebuah tradisi yang menciptakan kebanggaan dan keakraban. Partisipasi warga, terutama anak-anak, menambah lapisan kenangan yang hangat. Sejak 1960-an, siswa SMP dan SD Bogor sering dilibatkan dalam *aubade* di lapangan Istana Bogor untuk menyambut tamu negara, seperti Putra Mahkota Akihito dan Putri Michiko Jepang (1962) atau Kim Il Sung (1965). Kenangan lain menggambarkan anak-anak berdiri rapi, bernyanyi, dan melambai—bukan hanya upacara, tapi pelajaran kebangsaan yang membentuk generasi muda. Tradisi ini berlanjut hingga kini, seperti saat siswa SD di Kota Bogor menyambut tamu seperti Raja Swedia dan Raja Salman, menunjukkan bagaimana istana tetap menjadi simbol kebersamaan.

Warga juga mengenang sisi manusiawi: wartawan era Soekarno punya kesepakatan tak tertulis untuk memotret presiden dengan kopiah, menghindari rambut menipisnya, menambah nuansa ringan pada kemegahan istana. Meski ada kisah kelam seperti saat istana dicat hitam dan ditumbuhi ilalang pasca-G30S, kenangan positif mendominasi—istana sebagai tempat Soekarno beristirahat, menerima tamu, dan membangun nasionalisme.


Folklore Masyarakat Bogor tentang Istana: Sentuhan Mistis yang Menambah Pesona

Di balik kemegahan historisnya, Istana Bogor juga menyimpan folklore masyarakat Bogor yang kaya akan nuansa mistis, membuatnya semakin menarik sebagai bagian dari identitas kota hujan. Salah satu legenda paling populer adalah tentang *Patung Si Denok*, sosok perempuan berwajah lembut yang berdiri di sisi kanan gedung utama istana, dekat taman teratai. Menurut cerita turun-temurun warga lokal, Si Denok adalah penunggu abadi istana—seorang wanita cantik dari era kolonial yang konon jatuh cinta pada seorang pejabat Belanda, tapi nasibnya tragis karena dikhianati. Kini, patung itu diyakini "berpenghuni" oleh rohnya, yang sering muncul sebagai bayangan samar di malam hari, menjaga istana dari pengganggu. Warga Bogor sering berbisik bahwa siapa pun yang menyentuh patung dengan niat buruk akan mendengar bisikan angin atau merasakan dingin tiba-tiba, meski ini lebih sebagai pengingat untuk menghormati warisan daripada ketakutan murni.

Folklore lain yang beredar adalah tentang *Ruang Raja* di istana, yang dianggap angker sejak zaman kolonial. Gubernu Elemen-elemen ini menambah lapisan magis pada kenangan warga, membuat Istana Bogor terasa seperti mosaik sejarah yang hidup, penuh misteri yang memperkaya rasa bangga kolektif.


Cerita dari Balik Dinding: Warisan Keluarga dan Pelestarian

Istana Bogor adalah "rumah" bagi keluarga seperti Endang Sumitra, mantan Kepala Rumah Tangga yang melayani enam presiden selama 36 tahun, mewariskan pengabdian lima generasi. Ia menyiapkan menu favorit—nasi goreng untuk Soeharto, soto Betawi untuk Gus Dur, bubur sumsum untuk Jokowi—sambil menjaga "aturan tak tertulis" seperti larangan memotret. Bagi Endang, istana milik rakyat, bukan hanya presiden, mencerminkan semangat pelestarian yang selaras dengan kenangan warga Bogor.

Pada akhirnya, Istana Bogor adalah cerminan evolusi Bogor sebagai "kota pusaka"—dari benteng kolonial hingga pusat diplomasi, dengan kenangan era Soekarno dan sesudahnya sebagai fondasi kebanggaan warga Bogor

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top