Peran IA ISBI Bagi Seniman karawitan Dari Sanggar Karawitan Klapa Jajar Cirebon

0

 



Cirebon, Pakuan Pos - Siang tadi penulis berkesempatan bertemu dan bersilaturahmi dengan sosok seniman kondang, pemilik sanggar Klapa Jajar Cirebon, yang sudah sedari kecil menggeluti seni Karawitan warisan Orang tuanya.

Di kota wali Cirebon, siapa yang tak kenal Sanggar Karawitan Klapa Jajar! Dan siapa pula yang tak mengenal Cak Mamat. Ia seorang yang konsisten memegang pewarisan seni tradisi karawitan gaya Cirebonan.

Dan beberapa sanggar di wilayah Cirebon juga, seperti sanggar Sekar Pandan, dan ada beberapa lagi, semua terkoneksi satu keturunan dari trah Kesultanan Kanoman.

Sanggar Klapa Jajar Cirebon, merupakan sanggar yang bergerak dalam pewarisan tradisi khususnya karawitan di kota Cirebon, Jawa Barat.

Dan sanggar ini juga adalah, sebuah sanggar yang telah sejak lama ada di kota  Cirebon, yang berdiri sejak tahun 1970, tepatnya berdiri di tanggal 6 Agustus 1970.

Adapun sanggar ini berada di antara pasar Kanoman, dan Kraton Kesultanan Kanoman, tepatnya di belakang masjid pusaka Kraton Kanoman.

Beralamat di daerah Kanoman Utara No. 21 di Rt 02/ Rw 10, Kelurahan Pekalipan Kecamatan Pekalipan kota Cirebon, dan dari sanggar Klapa Jajar inilah para generasi muda kota Cirebon dan sekitarnya, terus mendapat pembinaan dari Cak Mamat dengan semangat pewarisan seni dan budayanya di bidang Karawitan.

Sanggar Klapa Jajar sendiri berdiri pada tahun 70 dan sekarang sudah berada di tangan Cak Mamat, generasi kedua, yang konsisten terus memegang warisan orang tuanya untuk mengajarkan seni Karawitan pada generasi berikutnya di kota Cirebon.

Tepatnya pada tanggal 6 agustus 1970 sanggar Klapa Jajar ini berdiri, dan pendiri dari sanggar Klapa Jajar adalah seorang Gegeden Kraton Kanoman, yakni Pangeran Agus Joni, yang termasuk trah keturunan Keraton Kesultanan Kanoman, ayahandanya Cak Mamat.

Dari pernikahannya, Cak mamat sendiri dikarunia 3 putra, yakni, Ratu riana sopiah yasmin alumni Upi Jurusan tari, yang ke dua, Ratu Kurnia Dwi Putri ayu yang sekarang masih mengambil jurusan tari di semester Akhir di UPI,dan yang ketiga seorang anak laki-laki bernama Zulkarnaen, yang sekarang tengah duduk di semester 4 di ISI Solo, mengambil jurusan karawitan.

Sebagai seorang pewaris seni tradisi tentu dalam pengelolaan sanggar tradisi tidaklah mudah. Ada

suka dan duka sebagai sosok pelanjut sanggar yang diwariskan.

" saya ini hanya melanjutkan saja, suka duka mengurus sanggar banyak, terutama di masalah fasilitas untuk pagelaran, di Cirebon ini kita masih kurang, dan belum banyak tempat untuk dijadikan lokasi mengapresiasi pertunjukan seni tradisi kita di sini."

" Di tambah pemerintah daerah pun, dan masyarakatnya, masih kurang dalam mengapresiasi dan mendukung peran sanggar sanggar seni yg ada." 

"Antusias generasi sekarang kurang minat kepada seni tradisi, kebanyakan mereka sudah kadung tertarik, senang budaya kontemporer yang datang dari luar, seperti K-Pop, dan itu luar biasa para remaja, dewasa, sampai anak-anak pun menyukainya."

"Itulah tantangan kami para pemilik sanggar." Ulas Cak Mamat ini.

"Dan harapan kedepannya dengan adanya peran IA ISBI, kami para seniman tradisi berharap, kalangan seniman akademik, para tokoh seniman lainnya, bisa membantu meloby pemerintah daerah di seluruh Jawa Barat, sehingga pemerintah daerah setempat, bisa lebih memberi support kepada kami, dan turut membantu peran seniman yang ada di daerahnya masing-masing."

"Saya berharap IA ISBI mampu menjembatani itu semua." ungkap cak Mamat mengakhiri ceritanya. (BM) 


Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Terima !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Baca Lebih Lanjut
Accept !
To Top